10

Pelayaran "Puncak Merah Putih" ke Krakatau berlangsung selama tiga hari antara tanggal 16-18 Agustus 2002. Phinisi Nusantara mulai bertolak dari dermaga pelabuhan II milik TNI AL sekitar pukul sembilan pagi. Sejak berada di Jakarta Phinisi, tertambat di sini. Tertambatnya Phinisi di sini seakan mencerminkan kurangnya penghargaan terhadap Perahu layar tradisional yang sempat mengharumkan nama banga Indonesia di mata dunia internasional.
Di dermaga, Phinisi hanya tertambat pada sebuah kapal TNI AL yang tengah merapat. Menuju ke Phinisi, orang mesti melewati jembatan kayu yang bolong di beberapa tempat. Kalau kurang hati-hati, bisa tercebur ke dalam air yang hitam dan penuh sampah di bawah dermaga. Jelas, kondisi lingkungan semacam itu tak sesuai bagi Phinisi Nusantara yang sekarang justru berfungsi sebagai kapal layar wisata. Pemandangan kurang menyenangkan ini memang sirna sejalan dengan berputarnya baling-baling kapal yang membawa Phinisi keluar dari tempat tinggalnya yang tidak sehat itu.
Sebagai Perahu layar yang berada di bawah bendera TNI AL, saat melewati lorong hingga pintu dermaga, awak dan penumpang Phinisi Nusantara mesti mengikuti prosedur layaknya anggota TNI AL yang hendak bertugas mengawal perairan Indonesia. Seluruh awak dan penumpang "wajib" berdiri menghadap ke dermaga dan kapal perang yang tengah tertambat. Ketika berpapasan, baik awak Phinisi maupun TNI AL meniup peluit dan saling memberi hormat.
Ini prosedur yang mesti kita lakukan setiap kali ada kapal yang hendak berlayar," kata Gita Arjakusumah, mantan nakhoda Phinisi Nusantara yang pensiunan perwira menengah TNI AL. Gita pula yang sukses membawa Phinisi melayari laut sejauh 11.000 mil dari Jakarta ke Vancouver, Kanada selama 62 hari.
Satu jam lepas dari pintu dermaga, awak Phinisi mulai mengembangkan tujuh layar Phinisi: tiga layar depan (jip sails), dua layar utama (main sails), dan dua layar puncak (top sails). Dengan tujuh layarnya ini, kecepatan maksimum Phinisi yang sekitar 5-6 knot bisa terdongkrak sampai lebih dari 7 knot. Namun semua tergantung dari kecepatan dan arah angin yang menerpa layarnya. Sayang ketika itu, angin hanya berhembus sepoi-sepoi, sehingga tujuh layar yang berkembang tak banyak membantu. Awak dan penumpang pun harus rela melaju 5-6 knot menyusur lepas pantai.
Kecepatan melonjak antara 9-11 knot justru ketika Phinisi berada di tengah-tengah terjangan ombak Selat Sunda. Ketika itu hari sudah gelap. Semua awak dan penumpang telah selesai menyantap makan malam dan tengah meninabobokan mata masing-masing.
Sebagian masuk kabin di dalam perut kapal, sebagian lagi tidur-tiduran di atas geladak kapal. Seiring dengan perputaran waktu, ombak pun makin lama makin kencang. seisinya mulai terombang ambing. Cipratan air sesekali membasahai geladak kapal dan penumpang yang tidur di atasnya. Dari dapur, dua kali terdengar piring dan gelas berjatuhan. Sesekali bunyi decit gesekan kayu dan bantingan pintu kamar dan kamar mandi semakin menambah seram suasana. Suasana itu berlangsung sekitar enam jam, sejak Phinisi menyeberang Selat Sunda. Tak ayal, sejumlah penumpang harus rela mengeluarkan kembali makan malamnya. Sebagian lainnya sekadar mual-mual dan puyeng.
Pelayaran Puncak Merah Putih Phinisi Nusantara

Pelayaran "Puncak Merah Putih" ke Krakatau berlangsung selama tiga hari antara tanggal 16-18 Agustus 2002. Phinisi Nusantara mulai bertolak dari dermaga pelabuhan II milik TNI AL sekitar pukul sembilan pagi. Sejak berada di Jakarta Phinisi, tertambat di sini. Tertambatnya Phinisi di sini seakan mencerminkan kurangnya penghargaan terhadap Perahu layar tradisional yang sempat mengharumkan nama banga Indonesia di mata dunia internasional.
Di dermaga, Phinisi hanya tertambat pada sebuah kapal TNI AL yang tengah merapat. Menuju ke Phinisi, orang mesti melewati jembatan kayu yang bolong di beberapa tempat. Kalau kurang hati-hati, bisa tercebur ke dalam air yang hitam dan penuh sampah di bawah dermaga. Jelas, kondisi lingkungan semacam itu tak sesuai bagi Phinisi Nusantara yang sekarang justru berfungsi sebagai kapal layar wisata. Pemandangan kurang menyenangkan ini memang sirna sejalan dengan berputarnya baling-baling kapal yang membawa Phinisi keluar dari tempat tinggalnya yang tidak sehat itu.
Sebagai Perahu layar yang berada di bawah bendera TNI AL, saat melewati lorong hingga pintu dermaga, awak dan penumpang Phinisi Nusantara mesti mengikuti prosedur layaknya anggota TNI AL yang hendak bertugas mengawal perairan Indonesia. Seluruh awak dan penumpang "wajib" berdiri menghadap ke dermaga dan kapal perang yang tengah tertambat. Ketika berpapasan, baik awak Phinisi maupun TNI AL meniup peluit dan saling memberi hormat.
Ini prosedur yang mesti kita lakukan setiap kali ada kapal yang hendak berlayar," kata Gita Arjakusumah, mantan nakhoda Phinisi Nusantara yang pensiunan perwira menengah TNI AL. Gita pula yang sukses membawa Phinisi melayari laut sejauh 11.000 mil dari Jakarta ke Vancouver, Kanada selama 62 hari.
Satu jam lepas dari pintu dermaga, awak Phinisi mulai mengembangkan tujuh layar Phinisi: tiga layar depan (jip sails), dua layar utama (main sails), dan dua layar puncak (top sails). Dengan tujuh layarnya ini, kecepatan maksimum Phinisi yang sekitar 5-6 knot bisa terdongkrak sampai lebih dari 7 knot. Namun semua tergantung dari kecepatan dan arah angin yang menerpa layarnya. Sayang ketika itu, angin hanya berhembus sepoi-sepoi, sehingga tujuh layar yang berkembang tak banyak membantu. Awak dan penumpang pun harus rela melaju 5-6 knot menyusur lepas pantai.
Kecepatan melonjak antara 9-11 knot justru ketika Phinisi berada di tengah-tengah terjangan ombak Selat Sunda. Ketika itu hari sudah gelap. Semua awak dan penumpang telah selesai menyantap makan malam dan tengah meninabobokan mata masing-masing.
Sebagian masuk kabin di dalam perut kapal, sebagian lagi tidur-tiduran di atas geladak kapal. Seiring dengan perputaran waktu, ombak pun makin lama makin kencang. seisinya mulai terombang ambing. Cipratan air sesekali membasahai geladak kapal dan penumpang yang tidur di atasnya. Dari dapur, dua kali terdengar piring dan gelas berjatuhan. Sesekali bunyi decit gesekan kayu dan bantingan pintu kamar dan kamar mandi semakin menambah seram suasana. Suasana itu berlangsung sekitar enam jam, sejak Phinisi menyeberang Selat Sunda. Tak ayal, sejumlah penumpang harus rela mengeluarkan kembali makan malamnya. Sebagian lainnya sekadar mual-mual dan puyeng.
This post was written by: Bontobahari Community
Mengawal Setiap Kebijakan Pemerintah Kab. Bulukumba Yang Tidak Berpihak Terhadap Rakyat Bulukumba Dan Melawan Diskriminasi | Facebook Fan Page
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
10 Responses to “Pelayaran Puncak Merah Putih Phinisi Nusantara”
November 11, 2010 at 8:02 PM
artikelnya keren bgt ya.. thanks infonya di tunggu kunjungan balik dan komentarnya juga ya kawan
November 11, 2010 at 8:48 PM
Wew... seru sekali sob ceritanya. Untuk mengibarkan Sang Merah Putih harus melawan ombak ganas. Phinisi mengantarkan Sang Pelaut yang Hebat!
Tapi kasihan jg yang pada muntah tuh...hehehe
November 11, 2010 at 9:25 PM
perjuangan yg perlu di contoh...
thx inponya & slm sahabat.
November 11, 2010 at 10:05 PM
pelaut indonesia memang hebat.....
November 11, 2010 at 11:38 PM
wah...jadi kepengen saya berlayar kaya gitu...seru ya kayanya...
November 12, 2010 at 11:37 AM
Salut
Ayo bikin bangga Indonesia
November 12, 2010 at 4:14 PM
ayo maju indonesia ku :D kita yang pasti bakalan terus dukung...
November 13, 2010 at 4:23 PM
indonesia tuh gak bisa disepelein
jadi salah kalo ada yang malu jadi warga indonesia
phinisi mantap
November 13, 2010 at 5:57 PM
pengen deh bisa ikut melayar..:-q
November 16, 2010 at 10:36 AM
ini kapal atok nenek moyangku
Post a Comment
GUNAKAN HAK ANDA UNTUK BERKOMENTAR